Hukum Perdata

Apakah Sama Wanprestasi dengan Perbuatan Melawan Hukum (PMH)? Ini Penjelasannya

Hai teman-teman…

Beberapa waktu lalu saya pernah posting artikel tentang wanprestasi dan ganti rugi akibat wanprestasi.

Nah…ternyata tuntutan atau gugatan ganti rugi itu tidak hanya dapat timbul akibat adanya pelanggaran kesepakatan dalam suatu perjanjian/akad atau wanprestasi saja loh Sob…, akan tetapi dapat pula dituntut atas dasar seseorang melakukan perbuatan melawan hukum (PMH).

Saya sering mendapati beberapa perkara diajukan oleh pihak ke pengadilan terkait gugatan ganti rugi akibat wanprestasi. Tapi tidak sedikit juga gugatan itu dikumulasi dengan gugatan ganti rugi akibat perbuatan melawan hukum (PMH).

– Apa boleh digabung seperti itu?

+ Kalau kumulasi itu dimaksudkan sebagai usaha pihak Penggugat untuk mendapatkan haknya…ya sah-sah saja karena dia yang merasa punya hak. Tapi apakah gugatannya dikabulkan atau tidak oleh Pengadilan? Ya…tergantung oleh Majelis Hakimnya… hehe.

Kalau dulu masih boleh dan ada beberapa putusan yang isinya menerima gugatan seperti itu. Tapi kini berbeda… sekarang sudah tidak lagi. Banyak gugatan semacam itu ditolak oleh Pengadilan karena menggabungkan gugatan ganti rugi akibat wanprestasi dan akibat perbuatan melawan hukum.

–  Kenapa ya Sob….?

+ Karena dari beberapa segi… antara wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum (PMH) terdapat perbedaan.

–  Apa bedanya bro…

+ Banyak Sob….

Menurut Yahya Harahap (2004: 454), menyatakan bahwa perbedaan antara wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum (PMH), yaitu:


Dari segi sumber hukum

  • Wanprestasi timbul dari persetujuan (agreement) (Pasal 1243 KUH Perdata);
  • Sedangkan perbuatan melawan hukum (PMH) timbu akibat perbuatan orang (Pasal 1365 KUH Perdata).

Dari segi timbulnya hak menuntut

  • Wanprestasi dapat menimbulkan hak ganti rugi yang timbul dari pasal 1243 KUH Perdata, yang pada prinsipnya membutuhkan pernyataan lalai (somasi).
  • Sedangkan perbuatan melawan hukum (PMH) tidak perlu somasi. Kapan saja terjadi perbuatan melawan hukum (PMH), pihak yang dirugikan langsung mendapat hak untuk menuntut ganti rugi.
Baca Juga:  Berani Melakukan Wanprestasi? Ini Akibat dan Konsekuensi Hukumnya

Dari segi tuntutan ganti rugi

  • Dalam wanprestasi, jangka waktu perhitungan ganti rugi yang dapat dituntut, serta jenis dan jumlah ganti rugi yang dapat di tuntut telah diatur dalam KUH Perdata.
  • Sedangkan perbuatan melawan hukum (PMH) tidak mengatur bagaimana bentuk dan rincian  ganti rugi, sehingga bisa digugat ganti rugi nyata (materiil) dan kerugian immaterial.

Yasardin (2016: 33) dalam Varia Peradilan Majalah Hukum No.362 (2016) menyatakan bahwa untuk memudahkan dalam melihat perbedaan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum (PMH) dapat dilihat pada tabel berikut:

Ditinjau dariWanprestasiPMH
Sumber hukum·       Pasal 1238, 1239,1243 KUHPer.

·       Timbul dari persetujuan (agreement).

·       Pasal 1365 s.d 1380 KUHPer.

·       Timbul akibat perbuatan orang.

Timbulnya hak menuntutHak menuntut ganti rugi dalam wanprestasi timbul dari Pasal 1243 KUHPer, yang pada prinsipnya membutuhkan pernyataan lalai (somasi/ in gebreke stelling).Hak menuntut ganti rugi karena PMH tidak perlu peringatan. Kapan saja terjadi PMH, pihak yang dirugikan langsung berhak untuk menuntut ganti rugi.
Tuntutan ganti rugi·       KUHPer telah mengatur tentang jangka waktu perhitungan ganti rugi yang dapat dituntut, serta jenis dan jumlah ganti rugi yang dapat dituntut dalam wanprestasi.

·       Gugatan wanprestasi tidak dapat menuntut pengembalian pada keadaan semula (retitutio in intergrum).

·       KUHPer tidak mengatur bagaimana bentuk rincian ganti rugi. Dengan demikian, dapat menggugat kerugian materiil dan kerugian immaterial.

·       Dapat menuntut pengembalian pada keadaan semula (retitutio in intergrum).

Nah…gimana bro…kira-kira udah ngerti khan…he

Semoga bermanfaat… 🙂

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close