Hukum Perdata

Apa sih Wanprestasi itu? Ini Kata Pakarnya

Hallo bro…

+ Penah dengar istilah prestasi?

– Sering fren…

+ Apa sih prestasi itu?

– Hhmmm… prestasi itu yang gue tahu kayak “dapat rangking di kelas”, “dapat juara”..githu…

+ Oh githu…good. Lah kalau istilah wanprestasi, pernah dengar gak?

–  Apaan lagi sih tuh? sodaranya prestasi kali ya….wkwkw kagak ngarti gue

+ wkwkw…

Bro… biasanya bagi praktisi hukum seperti jaksa, polisi, pengacara, hakim atau bahkan akademisi dan pebisnis yang sudah sering berkecimpung di dunia “perjanjian atau perikatan”, mungkin tidak asing lagi dengan istilah wanprestasi.

Namun, bagi orang awam, bisa jadi bertanya-tanya jika mendengar istilah yang satu ini.

Sebagai gambaran nih…,

jika dua orang atau lebih, telah berkumpul dan secara bersama-sama menyatakan berserikat atau mengadakan suatu ikatan/perjanjian melakukan perbuatan hukum, seperti perjanjian bisnis, sewa-menyewa, jual beli dan sebagainya, maka untuk mengingatkan tentang hak dan kewajiban masing-masing dan untuk mengantisipasi jika terjadi sengketa, biasanya para pihak yang bersepakat tersebut akan menuangkan kesepakatan bersama mereka dalam sebuah surat atau akta perjanjian yang di dalamnya tertuang antara lain meliputi pokok perjanjian, kewajiban dan hak masing-masing, dan sebagainya. Sehingga apabila ada pihak diantara mereka yang tidak memenuhi kewajibannya, otomatis ada pihak lain yang dirugikan haknya.

Nah… kondisi pihak yang tidak memenuhi kewajibannya atau merugikan hak orang lain sesuai dengan apa yang diperjanjikannya itulah yang disebut wanprestasi.

– OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO……begono…..

+ Panjang banget OOOO-nya…hihi

Pengertian Wanprestasi

Nah… biar lebih jelasnya, ditambahin deh.. pengertian wanprestasi-nya dan kita kudu punya referensi para pakarnya bro…hehe


1. Secara Etimologi

Subekti (1984: 45) menyatakan bahwa secara etimologi, wanprestasi berasal dari bahasa Belanda yang terdiri dari dua suku kata yakni: kata “wan” yang berarti tidak ada, dan  kata “prestasi” yang berarti prestasi atau kewajiban. Sehingga wanprestasi dapat diartikan prestasi buruk atau tidak memenuhinya kewajiban sebagaimana yang telah diperjanjikan. Selain itu juga dapat diartikan ketiadaan suatu prestasi.

Baca Juga:  Gugatan Atas Dasar Wanprestasi. Kapan boleh diajukan?

2. Secara Terminologi

Secara Terminologi atau secara istilah, hemat saya… pengertian tentang wanprestasi sendiri sepertinya tidak ada keseragaman dan tidak ada kata sepakat dikalangan pakar hukum dalam menentukan istilah mana yang hendak digunakan, sehingga masih banyak istilah-istilah lain yang pakai untuk menggambarkan wanprestasi, seperti istilah “ingkar janji”, “cidera janji”, “melanggar janji” dan lain sebagainya.

– O.. pantesan gue bingung sob….

+ Ciee elahhh… sok mikir lo…hehe…

Namun, paling tidak beberapa pengertian wanprestasi tersebut dapat kita lihat dari litelatur berikut bro… antara lain:

• Berdasarkan KUH Perdata

Menurut Pasal 1238 KUH Perdata, yang dimaksud dengan wanprestasi adalah “si berhutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri ialah jika ia menetapkan bahwa si berhutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

• Berdasarkan Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (KHES)

Sedangkan dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia (PERMA RI) Nomor 02 Tahun 2008 Tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (KHES) Buku II, Bab III, Bagian Keempat menggunakan istilah “Ingkar Janji” meskipun dibeberapa pasal seperti Pasal 20 angka 37 digunakan  pula istilah “wanprestasi”.

Pada Pasal 36 yang berbunyi:

“Pihak dapat dianggap melakukan ingkar janji, apabila karena kesalahannya:

  1. Tidak melakukan apa yang dijanjikan untuk melakukannya;
  2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya;
  3. Melakukan apa yang dijanjikannya, tetapi terlambat; atau
  4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.”

• Menurut para Pakar Hukum Indonesia

Biar lebih afdhol lagi nih ye… kita kutip pendapat beberapa mastah atau pakar hukum Indonesia tentang definisi wanprestasi.

Yang pertama…..“baca Qur’an dan maknanya…..” eh malah inget lagu Kang Opick… hehe

Baca Juga:  Apakah Sama Wanprestasi dengan Perbuatan Melawan Hukum (PMH)? Ini Penjelasannya

Santai dulu Sob, biar kagak suntuk cuy….

Kita lanjut lah…..

Yang pertama,

Menurut Subekti (1984: 45) menyatakan bahwa seseorang dapat dinyatakan wanprestasi apabila masuk dalam empat macam, yaitu:

  • Debitur tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
  • Debitur melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan;
  • Debitur melaksanakan apa yang diperjanjikannya, tetapi terlambat;
  • Debitur melaksanakan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

Yang kedua….

Menurut Abdul Kadir Muhammad (1982: 20) menyatakan bahwa wanprestasi adalah tidak memenuhi kewajiban yang harus ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun perikatan yang timbul karena Undang-Undang.

Yang ketiga….

Menurut Wirjono Prodjodikuro (1999:17) menyatakan bahwa wanprestasi adalah ketiadaan suatu prestasi didalam hukum perjanjian, berarti suatu hal yang harus dilaksanakan sebagai isi dari suatu perjanjian. Barangkali dalam Bahasa Indonesia dapat dipakai istilah “pelaksanaan janji untuk prestasi dan ketiadaan pelaksanaannya janji untuk wanprestasi”.

Yang keempat….

Menurut Mariam Darus Badrulzaman (1979: 59) menyatakan bahwa yang dikatakan wanprestasi atau cidera janji itu adalah apabila debitur karena kesalahannya tidak melaksanakan apa yang diperjanjikan. Kata “karena salahannya” sangat penting, oleh karena debitur tidak melaksanakan prestasi yang diperjanjikan sama sekali bukan karena salahnya.

Yang kelima….

Menurut Yahya Harahap (1982: 60) mendefinisikan wanprestasi sebagai pelaksanaan kewajiban tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya, sehingga menimbulkan keharusan bagi pihak debitur untuk memberikan atau membayar ganti rugi (schadevergoeding), atau dengan adanya wanprestasi oleh salah satu pihak, pihak yang lainnya dapat menuntut pembatalan perjanjian.

– Sudah…sudah sob… kebanyakan puyeng gue… mikirin dari pendapat satu orang aja mumet.. apalagi banyak pakar… Gini aja deh…kasih gue kesimpulannya…

Baca Juga:  Faktor Penyebab Terjadinya Wanprestasi

+ Kesimpulannya:

Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa wanprestasi adalah suatu kondisi apabila ada pihak yang melakukan perjanjian, tapi tidak melakukan kewajiban sebagaimana yang diperjanjikan.

Gimana? puyeng puyeng lo sono…wkwkw

Semoga bermanfaat…….

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close