Hukum Islam

Panduan Hukum dan Tata Cara Shalat Ied

Duh…senang rasanya kalau lebaran datang. Bisa kumpul dengan keluarga, bisa jumpa teman-teman, bisa silaturahim dan yang paling asyik adalah bisa makan ketupat opor ayam…hehe. Seperti yang kita ketahui lebarannya umat Islam ada dua yaitu lebaran puasa atau Idul Fitri dan lebaran kurban atau Idul Adha.

Tapi ngomong-ngomong teman-teman sudah tahu belum hukum dan tata cara shalat ied? 🙂 Jangan cuma ikut-ikutan ngeramein doang ya…hehe

–  eh.. boleh dong kita khan kudu ngerayain juga sob…

+ Iya sih…tapi mesti tahu juga hukum dan tata caranya.

– Iya sih… biasanya yang penting gue “sarungan”, “pecian”, ama “baju kokoan” doang sih… siap dah ikut shalat ied. Itu aja “sarungan” gue belum beres…hehe

+ Kenapa dengan sarung ente bro?

–  Melorot mulu bro…ga tau juga kenapa? dah bertahun-tahun belum bener-bener juga gue pake sarung…hihi

+ Jadi… itu gimana dong kalau melorot sarungnya? pake ikat pinggang?

Kagak sob…! pake “tali rapiah”…wkwk

+ Busyeeettt dah….kok bisa begitu bro?

–  Lah…gue cari-cari ikat pinggang gue ga ketemu-ketemu, ga tau nyelip dimana? mana emak gue teriak-teriak lagi nanyain gue mulu… “dah siap apa belum?!! buruan berangkat sana!!” ga tau beliau kalau gue lagi ribet pasang sarung… akhirnya gue cari aja tali rapiah, dari pada gue malu sarung gue melorot???? berabe khan???

+ wkwkwk… ya udah nanti gue ajarin dech…

– hehe…Ok…siappp….

+ Nah, kalau begitu, gimana kalau kita belajar bareng dan share pengetahuan tentang hukum dan tata cara shalat ied sapa tahu bisa menambah pengetahuan buat kita semua…hehe.

Pengertian Shalat Ied

Shalat ied adalah shalat yang dilakukan saat dua hari raya Islam yaitu hari raya Iedul Fitri atau yang sering dikenal dengan “lebaran puasa” (bertepatan dengan tanggal 1 syawal) dan hari raya Iedul Adha atau yang sering dikenal dengan “lebaran kurban” (bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah).

Hukum Mendirikan Shalat Ied

kali ini kita akan sharing apa yang telah diajarkan oleh Syekh Abdul Qadil al-Jailani, dalam kitabnya, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq ‘Azza wa Jalla, yang mana beliau menerangkan bahwa mendirikan shalat ‘Ied hukumnya fardu kifayah.

– maksudnya giman tuh bro?

+ maksudnya

jika sekelompok orang dari suatu desa (atau daerah) telah mengerjakannya, maka yang lain terbebas dari kewajiban itu. Sedangkan jika semua penduduk desa (atau daerah) sepakat untuk meninggalkan shalat ‘ied, maka penguasa (pemimpinnya) harus (menegakkan hukum) bagi mereka sampai mereka bertaubat.

beuhhh… kelewatan bro kalau kagak mau shalat ied bro… disuruh shalat hari raya aja kagak mau ya… padahal setahun dua kali aja ya…

+ Tapi beberapa pendapat lain ada juga bro.. yang mengatakan  bahwa hukum shalat ied adalah sunnah muakkad. Maksudnya sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Kenapa? Karena Rasulullah saw selama hidupnya hampir tidak pernah meninggalkannya.

Waktu Pelaksanaan Shalat Ied

Kapan mulai waktu shalat ‘Ied?

Adapun awal waktu shalat ‘ied adalah saat matahari mulai meninggi dan akhir waktunya adalah ketika matahari tergelincir. Disunnahkan untuk menyegerakan shalat pada Idul Adha, karena akan digelar ibadah kurban, dan memperlambat shalat Idul Fitri.

– Kenapa begitu bro?

+ Iya karena setelah shalat Idul Adha ada pelaksanaan ibadah kurban yang juga segera dilaksanakan. Sedangkan hikmah dari memperlambat shalat Idul Fitri diantaranya adalah karena untuk memastikan semua jama’ahnya sudah membayar zakat fitrah terlebih dahulu sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan. Nah biasanya kalau di masjid-masjid atau di lapangan sebelum shalat dimulai, bilal atau panitia pelaksana mengingatkan kepada jama’ah tentang zakat fitrah mengantisipasi apakah ada jama’ah yang belum membayar zakat fitrah.

–  Kenapa mesti begitu?

+ Karena beda konsekuensinya bro.. kalau banyar zakat fitrah setelah shalat Idul Fitri, maka zakatnya dianggap zakat biasa, bukan lagi zakat fitrah…

–  O begitu…

Syarat shalat ‘Ied

Apa saja syarat shalat ‘Ied?

Di antara syarat shalat ‘ied adalah: bermukim, memiliki jumlah yang memadai, dan adanya izin dari penguasa (seperti yang berlaku dalam shalat Jum’at). Namun ada riwayat lain dari Imam Ahmad bin Hanbal yang menyebutkan bahwa ketiga syarat di atas tidak disyaratkan, dan pendapat semacam ini juga menjadi pendapat Imam asy-Syafi’i.

Alhamdulillah bro… di negara kita (Indonesia) ini kalau masalah jumlah jama’ah insyAllah memadai, jangan khawatir kekurangan jama’ah. Tapi bisa jadi bro kalau di daerah tertentu ada juga yang muslimnya menjadi minoritas, tidak memungkinkan untuk diadakan shalat ied karena shalat ied dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana layaknya shalat jum’at.

Sunnah dalam Shalat Ied

Apa saja yang disunnahkan dalam shalat ‘ied?

Dalam menunaikan shalat ‘ied disunnahkan bagi para jamaah pergi pagi-pagi, mengenakan pakaian yang bagus, dan memakai wewangian, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam “Fadhilah Shalat Jum’at”.

Labib MZ dan Maftuh Ahnan (1991:115) menerangkan bahwa ada beberapa hal yang disunnahkan sebelum mengerjakan shalat ied, diantaranya:

  1. Mandi sebelum berangkat ke tempat shalat ied;
  2. Berpakaian yang sebaik-baiknya dan memakai wangi-wangian;
  3. Makan dahulu sebelum berangkat mengerjakan shalat Idul Fitri. Sedangkan untuk Idul Adha tidak makan sebelum shalat;
  4. Berangkat melalui satu jalan, sedangkan pulangnya melalui jalan yang lain (bila memungkinkan);
  5. Memperbanyak membaca takbir, tahlil dan tahmid;

Tempat terbaik (afdhal) untuk mengerjakan Shalat ‘Ied

Dimanakah tempat yang terbaik (afdhal) untuk mengerjakan Shalat ‘Ied?

Terkait dengan pelaksanaan shalat ‘ied, lebih baik dikerjakan di tanah lapang. Makruh hukumnya mengerjakan shalat ‘ied di masjid kecuali ada udzur.

Ibnu Qoyyim berkata: “Rasulullah saw tidak pernah shalat ied di masjid, kecuali hanya satu kali disebabkan ada hujan maka beliau shalat dengan para sahabat di masjid”

Lalu, apa alasannya demikian?

Alasannya telah dijelaskan dalam pembahasan tentang keutamaan shalat idul fitri dan Idul Adha.

Nah… agar lebih membantu pemahaman kita, bagus nih bro menyimak penjelasan salah satu ustadz kondang yang terkenal dengan hafal al-qur’an dan beberapa kitab beserta halamannya bahkan letaknya guys…

–  wuih…mantep ya….!!!

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA. dalam suatu ceramahnya menjelaskan tentang mana yang lebih baik (afdhol) antara shalat ied di masjid dengan shalat di lapangan.  Terkait shalat ied di lapangan, menurut beliau ada beberapa hikmah diantaranya:

  1. Untuk menampung lebih banyak jamaah;
  2. Untuk menampakkan syiar;

Beliau menerangkan sejarah tentang shalat ied dilapangan, yang mana kian lama kian bertambah umat muslim, sehingga waktu itu tidak dapat lagi menampung jamaah di masjid. Karena khutbah shalat ied berbeda dengan khutbah biasa, yang mana tidak hanya laki-laki yang boleh mendengar dan menyimaknya, melainkan boleh dan dianjurkanjuga bagi wanita bahkan wanita yang sedang haid pun boleh karena bagian dari merayakan hari raya.

Hal ini sesuai dengan sebuah hadits dari Ummu ‘Athiyah ia berkata: “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita-wanita yang sedang haidh pada kedua hari raya, perlu menyaksikan kebajikan dan da’wah kaum muslimin, sedangkan wanita-wanita haidh menyendiri (terpisah) dari tempat shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun menurut beliau untuk dapat pemahaman tidak cukup hanya dengan membaca haditsnya saja tapi perlu pemahaman secara fiqhiyyah.

Kalau ditelisik dari kaidah fiqhiyyahnya, tempat yang diutamakan disini bukanlah masalah tempat masjid atau tanah lapangnya, persoalannya adalah apakah bisa menampung banyak orang atau tidak?

Kalau di masjid misalnya diduga tidak bisa menampung, mafsadatnya lebih banyak, tidak terdengar dengan baik, syiarnya belum tampak, maka pindahkan ke tempat lapang yang lebih baik.

Tapi kalau masjidnya lebih luas dibanding tanah lapangnya, maka yang terbaik tunaikan di masjid. Karena manampung jamaah yang luas. Coba lihat masjid Nabawi sekarang. Luas khan… lapang khan… makanya sekarang shalatnya ditunaikan di masjid. Bukan di lapangan. Silahkan antum cek. Silahkan pergi ke Madinah. Apakah saat shalat idul fitri keluar dari masjid cari lapangan lagi? Tidak . sekarang ditunaikan di masjid. Orangnya pada ke masjid. Karena masjidnya lebih luas dari lapangannya yang ada diluar.

Demikian pula juga di masjid Masjidil Haram. Beliau menerangkan kondisi yang sama dengan masjid Nabawi, yang mana kondisi masjid lebih lapang dari pada di luar.

Oleh karena itu, beliau mengajarkan untuk memahami suatu hadits kita tidak cukup hanya membacanya sekali lalu mengambil kesimpulan, karena harus didukung dengan ilmu yang lain.

Karena itu ambil fiqh nya jangan setengah-setengah. Mangkanya kalau baca hadits baca seluruhnya, kemudian belajar kaidah fiqhnya. Jadi tidak cukup hanya baca hadits kemudian disimpulkan.

Beliau juga mencontohkan hadits tentang nabi Nabi shalat (ied) nya di lapangan. Kita harus hati-hati memahaminya. Jangan sampai kita memahami bahwa Nabi  hanya shalat di lapangan saja.

Belum tentu. Karena ada hadits yang lain, (yakni) Nabi pernah di shalat masjid. Kapan kejadiannya? yaitu saat hujan terjadi.

Kemudian (berikutnya) kenapa nabi shalat keluar (di lapangan)? (karena) untuk menampung jamaah yang lebih banyak.

Karena itu lihat kemaslahatannya. Jangan menduga kalau orang shalat dimasjid, lalu dikatakan itu tidak sesuai dengan sunnah nabi. Belum tentu. Karena mungkin masjid di tempat mereka lebih maslahat dibanding di luar. Maka hati-hati mengatakan (orang)yang shalat (ied) di masjid itu bid’ah. Maka dengan demikian yang shalat di mekah dan madinah itu bid’ah semua. Maka hati-hati dengan ucapan yang demikian.

Tata Cara Shalat Ied

Bagaimana cara shalat ‘ied?

1. Niat Shalat Idul Fitri

“Usholli sunnatan li ‘iedil fithri rok’ataini lillahi ta’aala, Allahu akbar”

Artinya: “aku berniat shalat sunnat iedul fithri dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

2. Niat Shalat Idul Adha

“Usholli sunnatan li ‘iedil adha rok’ataini lillahi ta’aala, Allahu akbar”

Artinya: “aku berniat shalat sunnat iedul adh-ha dua raka’at karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar”

Rakaat shalat ‘ied berjumlah 2 (dua) rakaat. Pada rakaat pertama, setelah membaca doa iftitah, mengucap takbir sebanyak 7 (tujuh) kali. Sedangkan pada rakaat kedua, mengucap takbir sebanyak 5 (lima) kali, sebelum membaca bacaan lainnya. Pada setiap takbir hendaknya mengangkat kedua tangan, lalu membaca:

(Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsiira wa subhanallahi bukratan wa ashiila. Wa sholawatullahi ‘ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alihi wa sallim tasliiman)

Setelah bertakbir dilanjutkan dengan membaca ta’awudz dan surat al-Fatihah, lalu membaca surah al-A’la para rakaat pertama, dan surat al-Ghasyiah para rakaat kedua. Jika pada rakaat pertama membaca surah al-Qaf, maka pada rakaat kedua membaca surat al-Qamar. Inilah bacaan yang dinukil dari Imam Ahmad. Namun dibolehkan pula membaca selain surah di atas. Sedangkan tentang mengakhirkan do’a iftitah yang dibaca sebelum membaca surah al-Fatihah, ada 2 (dua) riwayat: riwayat pertama menyatakan do’a ifititah dibaca setelah takbiratul ikram, sedangkan riwayat kedua menyatakan bahwa do’a iftitah dibaca sebelum ber-ta’awudz dan membaca surah al-Fatihah.

Tidak ada shalat sunnah sebelum maupun setelah shalat ‘ied. Karena itu, setelah selesai ia langsung pulang ke rumahnya untuk berkumpul dengan keluarga. Selain itu, dianjurkan untuk memperbanyak belanja demi menjamu keluarga. Ini didasarkan kepada sabda Nabi saw., “Hari ‘ied adalah hari makan-minum dan bersenang-senang”. Ketentuan ini berlaku pada dua hari ‘ied (Idul Fitri dan Idul Adha-red) dan hari-hari tasyriq (tiga hari setelah Idul Adha).

Hukumnya Bagi yang Telambat Melaksanakan Shalat Ied

–  Gimana kalau ada yang telambat melaksanakan shalat ‘ied, bro?

+ Bagi yang terlambat melaksanakan shalat ‘ied- kata Syekh Abdul Qadil al-Jailani – disunnahkan untuk mengqadhanya, yakni dengan cara melaksanakan shalat empat rakaat seperti shalat sunnah Dhuha dengan tidak disertai takbir, atau memakai takbir sebagaimana lazimnya. Kemudian ia berkumpul atau mendatangi keluarganya, sanak saudaranya, dan teman-temannya. Itu semua memiliki keutamaan yang besar.

Begitu yang diajarkan oleh Syekh Abdul Qadil al-Jailani.

–  O… githu ya bro…pengen cepet-cepet lebaran bro…hihihi

+ Iya bro… ok lain kali lah kita lanjut bro…

Semoga Bermanfaat… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close