Hukum Perdata

Gugatan Atas Dasar Wanprestasi. Kapan boleh diajukan?

Dalam suatu perjanjian, sudah menjadi berita umum kalau ada saja “oknum” pihak yang telah mengikatkan diri dalam suatu perjanjian atau perikatan suatu kesepakatan tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana yang telah disepakati bersama.

Hal ini sudah barang tentu mengakibatkan kerugian pada pihak lain yang ikut serta dalam perjanjian atau kesepakatan tersebut karena haknya terganggu atau bahkan terabaikan. Oleh karena itu, maka logis apabila pihak yang merasa dirugikan kemudian menuntut pihak yang tidak melaksanakan kewajiban sesuai kesepakatan (melakukan wanprestasi) tersebut, semata-mata agar haknya dapat dipenuhi.

Lalu, bagaimana mekanisme tuntutan atau gugatan atas dasar wanprestasi tersebut dapat diajukan?

Kapan Gugatan atas Dasar Wanprestasi Diajukan?

Terkadang masih ada yang bingung atau bertanya-tanya Kapan sih kita bisa menggugat terhadap nasabah atau pihak yang terlibat suatu perikatan atau perjanjian atau akad, namun melakukan wanprestasi?

Nah…mari kita bahas..

Teman-teman,

Untuk dapat mengajukan gugatan atas dasar nasabah telah melakukan wanprestasi, pastikan dulu apakah nasabah benar-benar telah melakukan wanprestasi atau tidak? dan juga kita telah melakukan somasi dengan cara yang benar.

Baca: Panduan dan Cara Menetapkan Seseorang Wanprestasi

Dalam hal tuntutan atas dasar wanprestasi, KUH Perdata telah mengatur tentang:

  • jangka waktu,
  • perhitungan ganti rugi yang dapat dituntut, serta
  • jenis dan jumlah ganti rugi yang dapat dituntut dalam wanprestasi.

Jangka Waktu Tuntutan atas Dasar Wanprestasi

Dalam menuntut ganti rugi atas dasar wanprestasi, ada ketentuan Sob…tentang waktunya atau kapan tuntutan itu bisa dilakukan.

– Jadi kapan nih kita bisa ajukan gugatannya?

+ Sabar dong fren….nafsu amat… hehe

Jangka waktu penuntutan ganti rugi terhadap pihak yang wanprestasi adalah dimulai sejak ia tidak memenuhi kewajibannya dan telah dinyatakan lalai atas tindakannya itu.

Baca Juga:  Panduan dan Cara Menetapkan Seseorang Wanprestasi

Nah, hal ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan teguran atau peringatan (somasi). Lazimnya kebanyakan teguran (somasi) tersebut dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dengan jarak antara somasi pertama, kedua dan ketiga dalam praktiknya relatif bervariasi (berbeda-beda).

Dan setelah dinyatakan lalai dan setelah di somasi), ia melakukan hal ini:

  • tetap saja tidak mau memenuhi kewajibannya, atau
  • jika seharusnya ia telah melakukan kewajibannya sesuai dengan waktu yang telah diperjanjikan bersama, namun kemudian ia telah melampaui waktu yang telah ditentukan (Pasal 1243 KUH Perdata). atau
  • melakukan kewajibannya, tapi tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan

maka bisa dipastikan nasabah tersebut wanprestasi dan sudah boleh mengambil langkah persiapan untuk dituntut atau digugat.

+ Gimana…mudeng ora son…saya aja bingung..hehe pissss

–  Terus, misalkan nih bro… sudah pas aja nih nasabah sudah positif wanprestasi dan siap untuk dituntut atau digugat… lalu apa yang mesti atau yang boleh kita gugat.

+ Jawabannya: Yang dituntut atau digugat itu, ya… yang menurutmu kerugianmu itu apa aja setelah rekan sepermainan-mu itu …eh…”rekan seperjanjian” mu maksudnya..hehe.. atau nasabah tersebut tidak melakukan kewajibannya (wanprestasi).

Jenis Ganti Rugi Yang Dapat Dituntut

Dalam kasus gugatan ganti rugi atas dasar wanprestasi, tidak semua jenis ganti rugi dapat dituntut karena dalam KUH Perdata telah mengatur apa saja yang dapat dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan akibat dari pihak lain yang wanprestasi.

Jadi kagak boleh sob…main asal tuntut atau sembarang gugat..

Biasanya nih…banyak juga pihak yang merasa dirugikan oleh pihak yang wanprestasi mengajukan gugatan ganti rugi semaunya…

–  Kalau bisa mah…gue tuntut sebesar-sebesarnya dan sebanyak-banyaknya…

+ Kagak boleh maliih… ada aturannya

Baca Juga:  Berani Melakukan Wanprestasi? Ini Akibat dan Konsekuensi Hukumnya

–  Lah… masalahnya gue dah rugi banyak sob…

+ Tetep ada aturannya bro…

Satrio (1999: 101) menyatakan bahwa jenis ganti rugi yang dapat dituntut dengan sebab pihak lain wanprestasi adalah:

  1. Kerugian yang telah dideritanya, yaitu berupa biaya-biaya dan kerugian;
  2. Keuntungan yang seandainya akan diperoleh (Pasal 1246 KUH Perdata), ini ditunjukan pada bunga-bunga.

Sedangkan dalam menentukan perhitungan dan jumlah ganti rugi yang dapat dituntut tetap mengacu pada jenis ganti rugi yang dapat dituntut, yakni meliputi biaya-biaya yang real telah dikeluarkan dan kerugian lain yang nyata telah dialami akibat timbulnya wanprestasi, serta bunga-bunga yang telah diperitungkan sebelumnya.

Sedangkan kalau dalam akadnya ternyata menggunakan akad syariah,  tidak boleh menuntut ganti rugi berdasarkan bunga, karena dalam akad syariah tidak memakai istilah bunga.

Piye bro…masih bingung ya…

Yo wes turu ae… sapa tau dapat ilham…he

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close