Panduan Hukum dan Tata Cara Shalat Ied

0
80

Dari Kitabnya Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq ‘Azza wa Jalla, Syekh Abdul Qadil al-Jailani menerangkan bahwa Shalat ‘Ied hukumnya fardu kifayah. Jika sekelompok orang dari suatu desa telah mengerjakannya, maka yang lain terbebas dari kewajiban itu. Sedangkan jika semua penduduk desa sepakat untuk meninggalkan shalat ‘ied, maka penguasa (pemimpin) harus memerangi (menegakkan hukum) bagi mereka sampai mereka bertaubat.

Kapan mulai waktu shalat ‘Ied?

Adapun awal waktu shalat ‘ied adalah saat matahari mulai meninggi dan akhir waktunya adalah ketika matahari tergelincir. Disunnahkan untuk menyegerakan shalat pada Idul Adha, karena akan digelar ibadah kurban, dan memperlambat shalat Idul Fitri.

Apa saja syarat shalat ‘Ied?

Di antara syarat shalat ‘ied adalah: bermukim, memiliki jumlah yang memadai, dan adanya izin dari penguasa (seperti yang berkau dalam shalat Jum’at. Namun ada riwayat lain dari Imam Ahmad bin Hanbal yang menyebutkan bahwa ketiga syarat di atas tidak syaratkan, dan pendapat semacam ini juga menjadi pendapat Imam asy-Syafi’i.

Apa saja yang disunnahkan dalam shalat ‘ied?

Dalam menunaikan shalat ‘ied disunnahkan bagi para jamaah pergi pagi-pagi, mengenakan pakaian yang bagus, dan memakai wewangian, sebagaimana yang tekah dijelaskan dalam “Fadhila Shalat Jum’at”.

Dimanakah tempat yang terbaik (afdhal) untuk mengerjakan Shalat ‘Ied?

Terkait dengan pelaksanaan shalat ‘ied, lebih baik dikerjakan di tanah lapang. Makruh hukumnya mengerjakan shalat ‘ied di masjid kecuali ada udzur. Pelaksanaannya boleh dihadiri oleh kaum wanita, bahkan kaum wanita memang dianjurkan untuk ikut ke lapangan. Lalu saat keluar dari lapangan atau masjid, dianjurkan berjalan kaki dan berjalan menyusuri rute yang berbeda dengan rute saat ia pergi.

Baca Juga:  Tuntutan atau Gugatan Atas Dasar Wanprestasi

Lalu, apa alasannya demikian?

Alasannya telah dijelaskan dalam pembahasan tentang keutamaan shalat idul fitri dan Idul Adha.

Bagaimana cara shalat ‘ied?

Rakaat shalat ‘ied berjumlah 2 (dua) rakaat. Pada rakaat pertama, setelah membaca doa iftitah, mengucap takbir sebanyak 7 (tujuh) kali. Sedangkan pada rakaat kedua, mengucap takbir sebanyak 5 (lima) kali, sebelum membaca bacaan lainnya. Pada setiap takbir hendaknya mengangkat kedua tangan, lalu membaca:

(Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsiira wa subhanallahi bukratan wa ashiila. Wa sholawatullahi ‘ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alihi wa sallim tasliiman)

Setelah bertakbir dilanjutkan dengan membaca ta’awudz dan surat al-Fatihah, lalu membaca surah al-A’la para rakaat pertama, dan surat al-Ghasyiah para rakaat kedua. Jika pada rakaat pertama membaca surah al-Qaf, maka pada rakaat kedua membaca surat al-Qamar. Inilah bacaan yang dinukil dari Imam Ahmad. Namun dibolehkan pula membaca selain surah di atas. Sedangkan tentang mengakhirkan do’a iftitah yang dibaca sebelum membaca surah al-Fatihah, ada 2 (dua) riwayat: riwayat pertama menyatakan do’a ifititah dibaca setelah takbiratul ikram, sedangkan riwayat kedua menyatakan bahwa do’a iftitah dibaca sebelum ber-ta’awudz¬†dan membaca surah al-Fatihah.

Tidak ada shalat sunnah sebelum maupun setelah shalat ‘ied. Karena itu, setelah selesai ia langsung pulang ke rumahnya untuk berkumpul dengan keluarga. Selain itu, dianjurkan untuk memperbanyak belanja demi menjamu keluarga. Ini didasarkan kepada sabda Nabi saw., “Hari ‘ied adalah hari makan-minum dan bersenang-senang”. Ketentuan ini berlaku pada dua hari ‘ied (Idul Fitri dan Idul Adha-red) dan hari-hari tasyriq (tiga hari setelah Idul Adha).

Bagaimana hukumnya bagi yang telambat melaksanakan shalat ‘ied?

Lalu bagaimana hukumnya bagi yang telambat melaksanakan shalat ‘ied?

Bagi yang terlambat melaksanakan shalat ‘ied disunnahkan untuk mengqadhanya, yakni dengan cara melaksanakan shalat empat rakaat seperti shalat sunnah Dhuha dengan tidak disertai takbir, atau memakai takbir sebagaimana lazimnya. Kemudian ia berkumpul atau mendatangi keluarganya, sanak saudaranya, dan teman-temannya. Itu semua memiliki keutamaan yang besar.

Baca Juga:  Pengertian Hukum Perdata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here